-->

Keterampilan Komunikasi yang Sehat dan Efektif

Keterampilan Komunikasi yang Sehat dan Efektif

Komunikasi sehat dan efektif

Pada kenyataannya konflik dalam suatu hubungan hampir tidak bisa dihindari oleh seriap orang. Konflik itu sendiri bukanlah masalah; tergantung bagaimana hal itu ditangani, bagaimanapun juga konflik dapat menyatukan orang atau memisahkan mereka. Keterampilan komunikasi yang buruk, ketidaksepakatan, dan kesalahpahaman dapat menjadi sumber kemarahan dan jarak atau malah bisa menjadi batu loncatan untuk hubungan yang lebih kuat dan masa depan yang lebih bahagia.

Komunikasi yang Sehat

Komunikasi yang sehat adalah merupakan pertukaran pikiran dan perasaan yang efektif di antara orang-orang. Hal ini sering melibatkan orang-orang yang bergiliran berbicara dan mendengarkan dengan baik. Idealnya, ketika seseorang terlibat dalam komunikasi yang sehat, orang-orang yang terlibat akan mengabdikan diri mereka untuk pertukaran informasi. Kedua orang atau lebih saling menyadari bagaimana mereka bertindak selama percakapan.

Misalnya, jika seseorang adalah pembicara, dirinya mungkin akan melakukan kontak mata atau menggunakan bahasa tubuh untuk menyatakan bahwa dirinya hadir dan terlibat. Jika seseorang adalah pendengar, dirinya akan terbuka untuk mendengar apa yang dikatakan pembicara dan tidak memotong mereka dari menyelesaikan kalimat atau memusatkan perhatian dirinya pada apa yang akan dia katakan selanjutnya.

Pentingnya Komunikasi yang Sehat

Komunikasi yang sehat sangat penting untuk mempertahankan suatu hubungan dalam jangka panjang. Satu studi menemukan bahwa komunikasi yang efektif dapat meningkatkan kepuasan dalam hubungan bagi pasangan. Komunikasi yang sehat juga dapat meningkatkan sebuah keintiman dalam suatu hubungan.

Cara seseorang dan pasangannya berkomunikasi satu sama lain sering kali menentukan cara mereka dalam menyelesaikan suatu konflik. Jika seseorang menggunakan metode komunikasi yang sehat, kemungkinan besar dirinya akan menemukan titik temu bahkan selama terjadi perselisihan. Hal ini dapat bahkan membantu memperkuat hubungan yang dialami oleh seseorang dari waktu ke waktu.

Tentu saja, cara berkomunikasi yang paling sehat sangat bervariasi berdasarkan situasinya. Jika salah satu orang menjadi tidak responsif terhadap gaya komunikasi yang lebih lembut ketika masalah serius perlu untuk ditangani, maka seseorang mungkin perlu untuk lebih langsung pada poin utama. Untuk masalah hubungan sehari-hari, di sisi lain pendekatan yang berpusat pada kasih sayang, pengampunan, dan validasi dapat membantu dalam upaya proses penyelesaiannya.

Maka dari itu penting untuk mengetahui cara melakukan komunikasi yang sehat dan cara menyesuaikan gaya komunikasi berdasarkan situasi yang dibutuhkan.

Tips Komunikasi Efektif untuk Konflik

Ketika seseorang sedang menghadapi konflik, perlu kiat-kiat tentang keterampilan komunikasi yang efektif supaya dapat menciptakan hasil yang lebih positif. Berikut ini merupakan tips komunikasi efetif untuk konflik:

1. Tetap fokus

Terkadang seseorang merasa tergoda untuk memunculkan konflik yang tampaknya terkait di masa lalu ketika berhadapan dengan yang sekarang. Mungkin terasa efisien atau perlu untuk mengatasi semua yang mengganggu seseorang secara sekaligus dan membicarakan semuanya saat seseorang sedang menghadapi satu konflik.

Sayangnya, pendekatan ini sering mengaburkan masalah dan membuat seseorang untuk saling pengertian dan mencari solusi untuk masalah saat ini kurang mungkin. Hal ini mungkin membuat seluruh diskusi lebih melelahkan dan bahkan membingungkan. Maka perlu mencoba untuk tidak membicarakan luka masa lalu atau topik lainnya. Tetap fokus pada saat ini, fokus pada perasaan, saling memahami, dan temukan solusi.

2. Dengarkan baik-baik

Orang sering berpikir bahwa mereka sedang mendengarkan, dengan benar-benar memikirkan apa yang akan mereka katakan selanjutnya ketika orang lain berhenti berbicara. Termasuk mencoba memperhatikan apakah dirinya melakukannya saat dia berdiskusi lagi.

Komunikasi yang benar-benar efektif berjalan dua arah. Meskipun mungkin sulit, perlu untuk mencoba benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan oleh pasangan berbicara. Mendengar menyela. Tidak bersikap defensif. Mendengarkan dan merenungkan kembali apa yang mereka katakan sehingga mereka tahu bahwa dia telah mendengarnya. Melalui latihan ini, seseorang akan lebih memahami dan orang lain tersebut akan lebih bersedia mendengarkan kembali.

3. Melihat sudut pandang orang lain

Dalam sebuah konflik, kebanyakan orang merasa ingin merasa didengar dan dipahami. Seseorang berbicara banyak tentang sudut pandangnya untuk membuat orang lain melihat sesuatu dengan caranya. Hal ini dapat dimengerti, tetapi terlalu fokus pada keinginan dirinya sendiri untuk dipahami di atas segalanya dapat menjadi bumerang. Ironisnya, jika semua seseorang melakukan ini sepanjang waktu, hanya ada sedikit fokus pada sudut pandang orang lain, dan tidak ada yang merasa dimengerti.

Perlu mencoba untuk benar-benar melihat sisi lain, dan kemudian seseorang dapat menjelaskan pendapatnya dengan lebih baik. (Jika seseorang tidak "mengerti", perlu mengajukan lebih banyak pertanyaan sampai dirinya mengerti.) Orang lain akan lebih bersedia mendengarkan jika mereka merasa didengarkan.

4. Tanggapi Kritik Dengan Empati

Ketika seseorang datang kepada dengan kritik, mudah untuk merasa bahwa mereka salah dan menjadi defensif. Meskipun kritik sulit untuk didengar dan sering dibesar-besarkan atau diwarnai oleh emosi orang lain, penting untuk mendengarkan rasa sakit orang lain dan menanggapi dengan empati atas perasaan mereka. Juga, perlu mencari apa yang benar dari apa yang mereka katakan; yang dapat menjadi informasi berharga dalam mengatasi konflik.

5. Cari Kompromi

Cari solusi yang dapat memenuhi kebutuhan semua orang, baik melalui kompromi atau solusi kreatif baru yang dapat memberi hal yang diinginkan kedua orang. Fokus ini jauh lebih efektif daripada satu orang mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan mengorbankan orang lain. Komunikasi yang sehat melibatkan menemukan resolusi yang dapat membuat kedua belah pihak merasa senang.

6. Luangkan Waktu

Terkadang emosi akan menjadi panas dan terlalu sulit untuk melanjutkan diskusi tanpa menjadi pertengkaran. Jika seseorang merasa dirinya atau pasangannya mulai terlalu marah untuk bersikap konstruktif, atau menunjukkan pola komunikasi yang merusak, maka tidak apa-apa untuk berhenti dari diskusi sampai mereka berdua merasa tenang.

Terkadang komunikasi yang baik berarti mengetahui kapan harus istirahat.

7. Meminta bantuan

Jika salah satu atau orang atau keduanya kesulitan untuk tetap saling menghormati selama konflik, atau situasinya tampaknya tidak membaik, seseorang mungkin mendapat manfaat dari beberapa sesi dengan melakukan konseling.

Konseling pasangan atau konseling keluarga dapat memberikan bantuan untuk pertengkaran dan mengajarkan keterampilan untuk menyelesaikan konflik di masa depan.

Komunikasi dalam Hubungan Jarak Jauh

Salah satu studi menemukan perbedaan utama antara gaya komunikasi pasangan dalam hubungan jarak jauh dan pasangan dalam jarak dekat satu sama lain. Para peserta dalam hubungan jarak jauh memiliki kebiasaan komunikasi sebagai berikut:

  • Lebih terlibat dalam panggilan video, panggilan suara, dan SMS
  • Diharapkan pasangannya lebih responsif terhadap panggilan dan SMS
  • Mengalami kebahagiaan hubungan yang lebih besar dengan SMS yang lebih sering dan responsif

Kedua pasangan dalam hubungan jarak jauh perlu merasa bahwa jalur komunikasi lebih terbuka.

Jika seseorang mengalami konflik jarak jauh, mengetik semua yang dipikirkan melalui teks mungkin bukan cara terbaik untuk berkomunikasi. Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman.

Media audio dan visual dapat membantu menawarkan peningkatan keintiman dibandingkan dengan bentuk komunikasi lainnya, seperti teks atau email. Meskipun SMS mungkin cukup untuk diterima dengan cepat, perlu untuk mempertimbangkan panggilan video atau panggilan telepon untuk diskusi mengenai hal yang lebih penting.

Kesimpulan

Perlu untuk diingat bahwa tujuan dari keterampilan komunikasi yang efektif haruslah saling pengertian dan menemukan solusi yang menyenangkan kedua belah pihak, bukan "memenangkan" argumen atau "menjadi benar sendiri".

Hal ini memang tidak dapat berhasil dalam setiap situasi, tetapi terkadang membantu untuk tetap berpegangan tangan atau tetap terhubung secara fisik saat seseorang sedang berbicara. Hal ini dapat mengingatkan seseorang bahwa dirinya masih peduli satu sama lain dan umumnya saling mendukung.

Ingatlah bahwa penting untuk tetap menghormati orang lain, bahkan jika seseorang tidak menyukai tindakan orang lain.

Referensi

  1. Arendt JFW, Pircher Verdorfer A, Kugler KG. Mindfulness and leadership: Communication as a behavioral correlate of leader mindfulness and its effect on follower satisfaction. Front Psychol. 2019;10:667. doi:10.3389/fpsyg.2019.00667
  2. Johnson MD, Lavner JA, Mund M, et al. Within-couple associations between communication and relationship satisfaction over time. Pers Soc Psychol Bull. May 2021. doi:10.1177/01461672211016920
  3. Overall NC, McNulty JK. What type of communication during conflict is beneficial for intimate relationships?. Curr Opin Psychol. 2017;13:1-5. doi:10.1016/j.copsyc.2016.03.002
  4. Kiken LG, Lundberg KB, Fredrickson BL. Being present and enjoying it: Dispositional mindfulness and savoring the moment are distinct, interactive predictors of positive emotions and psychological health. Mindfulness (N Y). 2017;8(5):1280-1290. doi:10.1007/s12671-017-0704-3
  5. Weger H Jr, Castle Bell G, Minei EM, Robinson MC. The relative effectiveness of active listening in initial interactions. International Journal of Listening. 2014;28(1):13-31. doi:10.1080/10904018.2013.813234
  6. Rogers SL, Howieson J, Neame C. I understand you feel that way, but I feel this way: The benefits of I-language and communicating perspective during conflict. PeerJ. 2018;6:e4831. doi:10.7717/peerj.4831
  7. Holtzman S, Kushlev K, Wozny A, Godard R. Long-distance texting: Text messaging is linked with higher relationship satisfaction in long-distance relationships. Journal of Social and Personal Relationships. 2021;38(12):3543-3565. doi:10.1177/02654075211043296
  8. Janning M, Gao W, Snyder E. Constructing shared “space”: Meaningfulness in long-distance romantic relationship communication formats. Journal of Family Issues. 2017;39(5):1281-1303. doi:10.1177/0192513x17698726

LihatTutupKomentar

Followers