-->

Pelecehan Emosional

Pelecehan Emosional

Pelecehan emosional

Pelecehan emosional adalah hal yang melibatkan pengendalian orang lain dengan menggunakan emosi untuk mengkritik, mempermalukan, menyalahkan, atau memanipulasi mereka. Meskipun paling umum dalam hubungan kencan dan pernikahan, pelecehan mental atau pelecehan emosional dapat terjadi dalam hubungan apa pun, termasuk di antara teman, anggota keluarga, dan rekan kerja. Secara umum, suatu hubungan dikatakan kasar secara emosional ketika ada pola yang konsisten dari kata-kata kasar dan perilaku intimidasi yang melemahkan harga diri seseorang dan merusak  kesehatan mental mereka.

Tujuan yang mendasari pelecehan emosional adalah untuk mengendalikan orang lain dengan mendiskreditkan, mengisolasi, dan membungkam mereka. Hal ini adalah salah satu bentuk pelecehan yang paling sulit untuk dikenali karena bisa bersifat halus dan berbahaya. Tapi hal itu juga bisa terbuka dan bersifat manipulatif.

Bagaimanapun juga pelecehan emosional dapat mengikis harga diri pada seseorang, dan orang tersebut dapat mulai meragukan persepsi dan kenyataan pada dirinya. Yang pada akhirnya, seseorang tersebut mungkin akan merasa terjebak. Orang yang dilecehkan secara emosional sering kali terlalu terluka untuk menahan hubungan lebih lama lagi, tetapi juga terlalu takut untuk pergi atau meninggalkannya. Jadi, siklus itu akan terus berulang sampai sesuatu hal akan selesai.

Tanda-tanda Pelecehan Emosional

Ada beberapa bendera merah dengan pelecehan emosional. Ingatlah bahwa meskipun pasangan, orang tua, rekan kerja, atau seorang teman yang hanya melakukan beberapa hal ini (pelecehan emosional) meskipun tidak melakukan banyak hal dalam pelecehan emosional, hubungan seseorang dengan mereka masih akan bersifat kasar secara emosional.

Saat mempertimbangkan hubungan seseorang dengan orang lain, perlu untuk ingat juga bahwa pelecehan emosional seringkali tidak kentara. Akibatnya, sangat sulit untuk mendeteksi tanda-tanda dari pelecehan emosional. Jika seseorang merasa kesulitan membedakan apakah hubungannya kasar, perlu untuk memikirkan bagaimana perasaan dirinya saat berinteraksi dengan orang yang dimaksud.

Jika seseorang merasa terluka, frustrasi, bingung, disalahpahami, tertekan, cemas, atau tidak berharga setiap kali dirinya berinteraksi dengan orang lain, kemungkinan besar hubungan dirinya adalah kasar secara emosional.

Akan tetapi jangan jatuh ke dalam perangkap dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa "itu tidak seburuk itu" dan meminimalkan penilaian perilaku buruk orang lain. Setiap orang berhak diperlakukan dengan baik dan hormat. Menyadari hal ini dapat membantu seseorang dalam menghentikan siklus pelecehan emosional.

Berikut ini adalah tanda-tanda pelecehan secara emosional:

1. Harapan yang Tidak Realistis

Salah satu tanda pelecehan emosional adalah jika orang lain menaruh harapan yang tidak realistis pada seseorang. Contohnya meliputi hal-hal berikut ini:

  • Membuat tuntutan yang tidak masuk akal
  • Mengharapkan seseorang untuk mengesampingkan semuanya dan memenuhi kebutuhan mereka
  • Menuntut seseorang untuk menghabiskan seluruh waktu bersamanya
  • Menjadi tidak puas, tidak peduli seberapa keras seseorang mencoba atau seberapa banyak dia memberi
  • Mengkritik seseorang karena tidak menyelesaikan tugas sesuai standar mereka
  • Mengharapkan seseorang untuk berbagi pendapat mereka (yaitu, seseorang tidak diizinkan untuk memiliki pendapat yang berbeda)
  • Menuntut seseorang menyebutkan tanggal dan waktu yang tepat ketika mendiskusikan hal-hal yang membuat seseorang kesal (dan ketika orang tersebut tidak dapat melakukan ini, mereka mungkin mengabaikan acara tersebut seolah-olah itu tidak pernah terjadi)

2. Membuat seseorang tidak valid (invalid)

Tanda lain bahwa orang mungkin kasar secara emosional (melakukan pelecehan emosional) adalah jika mereka membuat seseorang tidak valid. Beberapa contoh pembatalan (invalid) meliputi:

  • Merongrong, mengabaikan, atau mendistorsi persepsi atau realitas orang lain
  • Menolak untuk menerima perasaan orang lain dengan mencoba mendefinisikan bagaimana perasaan orang itu yang seharusnya
  • Mengharuskan orang lain untuk menjelaskan bagaimana perasaannya secara berulang-ulang
  • Menuduh orang lain "terlalu sensitif", "terlalu emosional", atau "gila"
  • Menolak untuk mengakui atau menerima pendapat atau ide seseorang sebagai valid
  • Mengabaikan permintaan, keinginan, dan kebutuhan seseorang sebagai hal yang konyol atau tidak pantas
  • Menyatakan bahwa persepsi seseorang adalah salah atau tidak dapat dipercaya dengan mengatakan hal-hal seperti "Anda berlebihan" atau "Anda melebih-lebihkan"
  • Menuduh orang lain egois, membutuhkan, atau materialistis jika orang tersebut mengungkapkan keinginan atau kebutuhannya (harapannya adalah orang lain seharusnya tidak memiliki keinginan atau kebutuhan apa pun)

3. Menciptakan Kekacauan

Orang yang kasar secara emosional atau tanda dari orang yang melakukan pelecehan emosional adalah cenderung menciptakan kekacauan. Beberapa contoh bendera merah atau membuat kekacauan ini antara lain:

  • Memulai argumen demi berdebat (suka berdebat)
  • Membuat pernyataan yang membingungkan orang lain dan kontradiktif (terkadang disebut "membuat gila")
  • Mengalami perubahan suasana hati yang drastis atau ledakan emosi yang tiba-tiba
  • Menyukai pakaian, rambut, pekerjaan, dan lainnya
  • Berperilaku tidak menentu dan tidak terduga sehingga orang lain merasa seperti " berjalan di atas kulit telur "

4. Menggunakan Pemerasan Emosional

Jika seseorang mencoba menggunakan emosi orang lain untuk melawan orang tersebut, hal ini adalah tanda dari pelecehan emosional. Contoh pemerasan emosional meliputi hal-hal berikut:

  • Memanipulasi dan mengendalikan orang lain dengan membuatnya merasa bersalah; memberi perjalanan rasa bersalah
  • Mempermalukan orang lain di depan umum atau secara pribadi
  • Menggunakan ketakutan, nilai, kasih sayang, atau hal lainnya untuk mengendalikan orang lain atau situasi
  • Melebih-lebihkan kekurangan orang lain atau menunjukkannya untuk mengalihkan perhatian atau untuk menghindari tanggung jawab atas pilihan atau kesalahan mereka sendiri yang buruk
  • Menyangkal bahwa suatu peristiwa terjadi atau berbohong tentang hal itu
  • Menghukum orang lain dengan menahan kasih sayang atau memberi perlakuan diam

5. Bertindak Superior

Orang yang kasar secara emosional atau melakukan pelecehan emosional sering kali akan bertindak superior. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika mempertimbangkan apakah orang dalam hidupnya menunjukkan tanda pelecehan emosional ini meliputi:

  • Memperlakukan orang lain lebih rendah (merendahkan orang lain)
  • Menyalahkan orang lain atas kesalahan dan kekurangan dirinya
  • Meragukan semua yang orang lain katakan dan mencoba membuktikan bahwa orang lain salah
  • Membuat orang lain menjadi bahan lelucon
  • Memberitahu orang lain bahwa pendapat, ide, nilai, dan pemikiran orang lain itu bodoh, tidak logis, atau "tidak masuk akal"
  • Membicarakan orang lain atau merendahkannya
  • Menggunakan sarkasme saat berinteraksi dengan orang lain
  • Bersikap seolah mereka selalu benar, tahu apa yang terbaik, dan lebih pintar dari orang lain

6. Mengontrol dan Mengisolasi

Orang yang kasar secara emosional atau melakukan pelecehan emosional akan berusaha mengisolasi dan mengendalikan orang lain. Beberapa contoh bentuk pelecehan emosional ini meliputi hal sebagai berikut:

  • Mengontrol dengan siapa orang lain akan menghabiskan waktu, termasuk teman dan keluarga
  • Memantau orang lain secara digital, termasuk pesan teks, media sosial, dan email
  • Menuduh pasangan selingkuh dan cemburu dengan hubungan luar
  • Mengambil atau menyembunyikan kunci kendaraan orang lain
  • Menuntut untuk mengetahui di mana orang lain atau pasangan berada setiap saat atau menggunakan GPS untuk melacak setiap gerakan
  • Memperlakukan orang lain seperti milik atau properti
  • Mengkritik atau mengolok-olok teman, keluarga, dan rekan kerja orang lain
  • Menggunakan kecemburuan sebagai tanda cinta dan mencegahnya bersama orang lain
  • Memaksa orang lain untuk menghabiskan seluruh waktunya bersama
  • Mengontrol keuangan

Jenis-jenis Pelecehan Emosional

Pelecehan emosional dapat mengambil beberapa bentuk yang berbeda. Berikut ini adalah bentuk jenis-jenis pelecehan emosional:

  • Tuduhan selingkuh atau tanda-tanda kecemburuan dan posesif lainnya
  • Terus-menerus memeriksa atau mencoba mengendalikan perilaku orang lain
  • Terus-menerus berdebat atau menentang
  • Mengkritik
  • Mengisolasi individu dari keluarga dan teman-teman mereka
  • Pemanggilan nama dan pelecehan verbal
  • Menolak untuk berpartisipasi dalam hubungan
  • Memalukan atau menyalahkan
  • Perlakuan senyap
  • Meremehkan kekhawatiran orang lain
  • Menahan kasih sayang dan perhatian

Hubungan seseorang mungkin tampak atau terlihat normal dan penuh kasih pada awalnya, dengan jenis pelecehan emosional ini digunakan kemudian (selama hubungan berlangsung) dalam upaya untuk mulai memanipulasi dan mengendalikan orang lain atau pasangan. Mereka mungkin mulai sangat lambat sehingga orang lain mungkin tidak menyadarinya pada awalnya.

Perbedaan Pelecehan Emosional dengan Konflik Normal

Konflik adalah bagian normal dari sebuah hubungan. Namun, jika selama konflik dengan orang lain seseorang merasa seolah-olah ditindas, tidak dihargai, diremehkan, dihina, atau diberhentikan, hal ini adalah tanda-tanda bahwa hal itu mungkin telah melewati batas dan mengarah menjadi pelecehan emosional.

Dampak Pelecehan Emosional

Penelitian menunjukkan bahwa dampak pelecehan emosional sama parahnya dengan kekerasan fisik. Kecuali, alih-alih tanda fisik dan memar, luka dari pelecehan emosional tidak terlihat oleh orang lain dan tersembunyi dalam keraguan diri, ketidakberhargaan, dan kebencian diri yang mungkin akan dirasakan.

Ketika pelecehan emosional menjadi parah dan berkelanjutan, seseorang yang menjadi korban bisa kehilangan seluruh rasa pada dirinya. Seiring berjalannya waktu, tuduhan, pelecehan verbal, pemanggilan nama, dan kritik dapat mengikis rasa diri sedeorang sampai sedemikian rupa sehingga orang yang menjadi korban tidak dapat lagi melihat dirinya secara realistis.

Akibatnya, orang yang menjadi korban mungkin akan mulai setuju dengan pelaku dan menjadi kritis secara internal. Setelah ini terjadi, orang yang menjadi korban akan terjebak dalam hubungan yang kasar, percaya bahwa dirinya tidak akan pernah cukup baik untuk orang lain. Akhirnya, orang yang menjadi korban mungkin akan menarik diri dari pertemanan dan mengasingkan diri, dan yakin bahwa tidak ada yang menyukai dirinya.

Pelecehan emosional dapat berdampak buruk pada persahabatan karena orang yang dilecehkan secara emosional sering khawatir tentang bagaimana orang melihat mereka dan apakah mereka benar-benar menyukainya. 

Terlebih lagi, pelecehan emosional dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Efek kesehatan mental dari penyalahgunaan termasuk depresi, kecemasan, dan kadang-kadang perkembangan gangguan makan. Dilecehkan secara emosional juga dapat berdampak pada seseorang secara fisik, menyebabkannya mengalami sakit maag, jantung berdebar, dan insomnia.

Cara Menghadapi Pelecehan Emosional

Cara menghadapi pelecehan emosional langkah pertama adalah dengan mengenali pelecehan tersebut. Jika seseorang dapat mengidentifikasi aspek pekecehan emosional apa pun dalam hubungannya, penting untuk mengetahuinya terlebih dahulu.

Dengan bersikap jujur ​​tentang apa yang dialami, seseorang dapat mulai mengendalikan hidupnya lagi. Berikut adalah tujuh strategi atau cara menghadapi pelecehan emosional.

1. Jadikan Diri Sendiri Prioritas

Dalam hal kesehatan mental dan fisik, jadikan diri sendiri sebagai prioritas. Berhenti untuk khawatir tentang menyenangkan orang yang melecehkan. Jaga kebutuhan diri sendiri. Lakukan sesuatu yang akan membantu diri sendiri berpikir positif dan menegaskan siapa diri sendiri.

Juga, pastikan untuk mendapatkan jumlah istirahat yang tepat dan makan makanan yang sehat. Langkah-langkah perawatan diri yang sederhana ini dapat membantu seseorang dalam mengatasi tekanan sehari-hari akibat pelecehan emosional.

2. Tetapkan Batas

Katakan dengan tegas kepada orang yang melecehkan, bahwa mereka mungkin tidak lagi meneriaki, memanggil, menghina, bersikap kasar, dan sebagainya. Kemudian, memberi tahu mereka apa yang akan terjadi jika mereka memilih untuk terlibat dalam perilaku ini.

Misalnya, dengan memberi tahu mereka bahwa jika mereka menyebut nama dan menghina, percakapan akan berakhir dan akan meninggalkan ruangan. Kuncinya adalah untuk menindaklanjuti batas-batas diri. Hal ini memperkuat kepada orang lain bahwa pelecehan emosional mereka tidak akan ditoleransi. Jangan mengomunikasikan batasan yang tidak ingin dipertahankan.

3. Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Jika seseorang telah berada dalam hubungan yang melecehkan secara emosional selama beberapa waktu, seseorang tersebut mungkin percaya bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengannya. Tapi bukan dirinya masalahnya. Menyalahgunakan berarti membuat pilihan. Berhenti menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

4. Sadarilah Diri  Sendiri Tidak Dapat Memperbaikinya

Terlepas dari upaya terbaik seseorang, dirinya tidak akan pernah bisa mengubah orang yang kasar secara emosional (orang yang melakukan pelecehan emosional) dengan melakukan sesuatu yang berbeda atau dengan menjadi berbeda. Orang yang kasar membuat pilihan untuk berperilaku kasar.

Ingatkan diri sendiri bahwa dirinya tidak dapat mengendalikan tindakan mereka dan bahwa dia tidak dapat disalahkan atas pilihan mereka. Satu-satunya hal yang dapat dikendalikan adalah respons diri sendiri terhadap pelecehan emosional.

5. Hindari Terlibat

Hindari terlibat bergaul dengan orang yang melakukan pelecehan emosional. Dengan kata lain, jika seorang pelaku pelecehan emosional mencoba untuk memulai pertengkaran dengan seseorang, mulai menghinanya, menuntut sesuatu darinya, atau mengamuk karena cemburu, maka orang tersebut tidak perlu mencoba menjelaskan, menenangkan perasaan mereka, atau meminta maaf atas hal-hal yang tidak dilakukan.

Orang trrsebut cukup berjalan menjauh dari situasi jika dia bisa. Terlibat dengan pelaku hanya membuat orang tersebut siap untuk lebih banyak pelecehan dan sakit hati. Tidak peduli seberapa keras ditinya mencoba, dia tidak akan dapat membuat hal-hal benar di mata mereka.

6. Bangun Jaringan Dukungan

Meskipun mungkin sulit untuk memberi tahu seseorang bahwa kita mengalami pelecehan emosional, berbicara tetap dapat membantu. Bicaralah dengan teman tepercaya, anggota keluarga, atau bahkan konselor tentang apa yang dialami. Luangkan waktu dari orang yang melakukan pelecehan emosional sebanyak mungkin dan habiskan waktu dengan orang-orang yang mencintai dan mendukung.

Jaringan  teman dan orang kepercayaan yang sehat ini akan membantu menjadi merasa tidak terlalu kesepian dan terisolasi. Mereka juga dapat mengungkapkan kebenaran ke dalam hidup dan membantu dalam menempatkan segala sesuatunya ke dalam perspektif.

7. Bekerja pada Rencana Keluar

Jika pasangan, teman, atau anggota keluarga tidak berniat untuk mengubah atau mengerjakan pilihan buruk mereka, maka tidak akan dapat bertahan dalam hubungan yang kasar selamanya. Hal ini pada akhirnya akan merugikan baik secara mental maupun fisik.

Tergantung pada situasi, mungkin perlu mengambil langkah untuk mengakhiri hubungan. Setiap situasi berbeda. Jadi, perlu untuk diskusikan pemikiran dan ide dengan teman, anggota keluarga, atau konselor tepercaya. Pelecehan emosional dapat memiliki efek jangka panjang yang serius, tetapi juga dapat menjadi awal dari kekerasan fisik dan kekerasan lainnya. 

Perlu diingat juga bahwa pelecehan sering meningkat ketika orang yang dilecehkan membuat keputusan untuk pergi. Jadi, perlu untuk memastikan bahwa seseorang memiliki rencana keamanan jika pelecehan emosional semakin parah.

Hal Yang Tidak Perlu Dilakukan Dengan Pelecehan Emosional

Terkadang upaya untuk mengatasi atau mengurangi pelecehan emosional dapat menjadi bumerang dan justru memperburuk pelecehan emosional itu. Beberapa hal yang tidak perlu dilakukan dengan pelecehan emosional meliputi hah-hal berikut ini:

  • Berdebat dengan pelaku. Mencoba berdebat dengan pelaku pelecehan emosional dapat meningkatkan masalah dan dapat mengakibatkan kekerasan. Tidak ada cara untuk berdebat dengan pelaku pelecehan emosional karena mereka akan selalu menemukan lebih banyak cara untuk menyalahkan, mempermalukan, atau mengkritik. Mereka mungkin juga mencoba membalikkan keadaan dan bermain sebagai korban.
  • Mencoba memahami atau membuat alasan bagi pelaku. Mungkin tergoda untuk mencoba memahami perilaku orang lain atau mencari alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Menemukan cara untuk bersimpati dengan atau meminimalkan tindakan pelaku pelecehan emosional dapat membuat meninggalkan situasi menjadi jauh lebih sulit.
  • Mencoba menenangkan pelaku. Menenangkan orang lain mungkin tampak seperti bentuk de-eskalasi, tetapi cenderung menjadi bumerang dalam jangka panjang dan dapat berfungsi untuk memungkinkan penyalahgunaan lebih lanjut. Alih-alih mencoba mengubah diri atau perilaku agar sesuai dengan keinginan pelaku pelecehan emodional, lebih baik fokus untuk menetapkan batasan yang jelas dan hindari terlibat dengan pelaku pelecehan emosional jika memungkinkan.

Penyembuhan Dari Pelecehan Emosional

Jika seseorang pernah mengalami pelecehan emosional, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu proses penyembuhan.

  • Mengakui penyalahgunaan. Berhenti meminimalkan atau bahkan menyangkal pelecehan dan akui bahwa itu memang terjadi sehingga seseorang dapat mulai menyembuhkannya.
  • Membuat komitmen pada diri sendiri. Berkomitmen untuk menghentikan siklus pelecehan emosional. Juga, berkomitmen untuk bertahan dengan proses penyembuhan tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan karena diri sendiri layak untuk menjalani kehidupan yang bahagia.
  • Berlatih mengasihani diri sendiri. Beri diri sendiri tingkat kasih sayang, kebaikan, dan fleksibilitas yang sama untuk tumbuh seperti yang diberikan kepada teman yang pernah mengalami pelecehan emosional.
  • Jangkau orang-orang terkasih. Hubungi orang-orang yang peduli dan mendukung, sehingga mereka dapat membantu melewati masa sulit ini.
  • Cari konseling. Konseling dapat membantu menempatkan hubungan yang kasar secara emosional ke dalam perspektif sambil juga menyediakan alat untuk mengatasi pelecehan emosional tersebut.
  • Bicara dengan orang lain yang telah dilecehkan secara emosional. Berbagi pengalaman dengan orang lain yang pernah mengalami hal yang sama dapat membantu seseorang mengenali bahwa dirinya tidak sendirian, juga memberikan akses ke strategi yang mereka gunakan yang membantu mereka sembuh.

Penyembuhan dari pelecehan emosional membutuhkan waktu. Merawat diri sendiri, menjangkau orang-orang terkasih yang suportif, dan berbicara dengan konselor akan dapat membantu.

Referensi

  1. National Network to End Domestic Violence. Forms of abuse.
  2. National Domestic Violence Hotline. Understand relationship abuse.
  3. Office on Women's Health. Emotional and verbal abuse.
  4. Remschmidt H. The emotional and neurological consequences of abuse. Dtsch Arztebl Int. 2011;108(17):285-286. doi:10.3238/arztebl.2011.0285

LihatTutupKomentar

Followers